Rangkaian kejadian yang hanya berlangsung sekitar satu detik itu seperti membuat tubuhnya mengalirkan darah demikian cepat.“Eh, Lir, sorry ya kalo terlalu keras. Bokepindo Lututnya ditekuk dan kedua pahanya ia buka lebar-lebar. Ngga tau, pembawaan anak teknik kali ya, berasa pintar sedunia.”Lira nyerocos tapi dari sorot matanya terlihat ia sangat serius.“Dulu gue tuh sering nahan hati soalnya cowo gue itu diomongin terus sama temen-temen gue. Andi lebih dulu menuju motornya di lantai bawah.“Bareng aja…,” sahut Andi.“Oke!”Waktu saat itu menunjukkan pukul 4.15 sore. Lira seperti diawang-awang diperlakukan seperti itu. Aktifitas Lina membawanya sering berkumpul dengan anak-anak Hukum yang seperti teman-teman baru bagi Andi.Kenyataan ia satu-satunya anak Ekonomi saat berkumpul dengan teman-teman Lina membuatnya mudah dikenali. Rasanya seperti melayang setiap sapuan jemari Andi mengenai alat kelaminnya itu. Dan memang benar, saat tiba di kampus FH, anak-anak yang rapat sudah duduk-duduk di koridor kampus.“Bareng Lira?” Tanya Lina tanpa curiga.“Iya, tadi ketemu di jalan, ya sekalian aja.”“Tunggu bentar ya, 10 menit lagi.”“Oke,




















