Ia sedikit melenguh dan terduduk di kursi.. kurasakan aku ‘kencing’ dan perasaan geli itu mulai menguap meninggalkan bekas bergetar dingin pada sekujur badanku.. Bokeb (Hihihi aku perhatikan ia mengambil anak kunci pintu depan dari balik keset.. Meletakkan gelas di meja belajarnya lalu mengunci pintu dan berdiri bersandar di pintu sambil memandangiku. Dia tersenyum dan berdiri sambil membelai pipiku. Lagian aku buat apa bilang-bilang.. “Cie Len.. Cie Sian cuman tersenyum aja aku bilang gitu..Cuma gara-gara naik bis itu, Tante Vi, sekretaris Mama khusus buat di rumah dan gara-gara kekhususannya itu kami suka ejek dia butler alias “kepala pelayan” hehehe- jadi sedikit sewot. anunya.. udah keliatan belon?”
aku terkaget-kaget di tempat duduk menatap wajahnya yang tersenyum manis, “apanya, nih?”dia tersenyum lalu gerakan matanya menunjuk arah diantara kedua kakinya yang membuka sambil berkata pelan, “..celana dalemnya ciecie..”nah, kebayang kan gimana malunya dan merahnya mukaku saat itu ditembak langsung begitu..

















