Ke bawah lagi: Hah habis kancingku habis. XNXX Jepang Tapi saya gerah.” meloncat begitu saja kata-kata itu.Aku belum pernah berani bicara begini, di angkot dengan seorang wanita, separuh baya lagi. “Masih sepi ini..!” kataku makin berani.Kemudian aku merangkulnya lagi, menyiuminya lagi. Apa katanya nanti? Aku hanya ditinggali handuk kecil hangat. Penumpang lima lalu supir, jadi enam kali tujuh, 42 hore aku turun. Kaki disandarkan di dinding. Kemudian menyerahkan celana pantai.“Mbak Wien, pasien menunggu,” katanya.Majalah lagi, ah tidak aku harus bicara padanya. Dari jarak yang dekat ini hawa panas tubuhnya terasa. Apa yang aku harus bilang, lho tadi kedip-kedipin mata, maksudnya apa? Aku masih ingat sepatunya tadi di angkot. Keras sekali.“Jangan cuma ditunjuk dong, dipegang boleh.”Ia berdiri. Pokoknya turun.“Kiri Bang..!”Aku lalu menuju salon. Dia mau pulang dulu ngeliat orang tuanya sakit katanya sih begitu,” kata Wien.Setelah beberapa lama menyodoknya, “Terus dong Yang. Bau tubuhnya tercium. Aku bisa dapatkan ia, wanita setengah baya yang meleleh keringatnya di angkot karena kepanasan.




















