Bu Murni namanya. Bokep montok Pantas saja dia berani merantau keluar negeri, pikirku.Sesampai dirumah kakaknya, ternyata tuan rumah sedang pergi membantu tetangga yang sedang hajatan. Kamu juga sih..”Setelah itu sambil sama-sama tersenyum aku nekad menarik kedua tangannya yang lembut itu hingga tubuhnya menempel di dadaku, dan akhirnya kami saling berpelukan tidak terlalu erat tadinya. Kan capek nyetir mobil..” katanya.Diberikannya air putih itu, tapi mata Pipit yang indah itu sambil memandangku genit. Di dalam perjalanan kami ngobrol dan sambil bersendau gurau.“Pit.., namamu Pipit. Merasa ada perimbangan, aku tak canggung-canggung lagi aku buka saja kancing bajunya. Iya.. Nikmat sekali.. Mengerang panjang sambil tangannya menjambak rambutku.. Tuh bawain air yang dikendil ke depan..,” begitu suara Bu Murni.Aku tidak mendengar ada jawaban dari yang diperintah Bu Murni tadi. Aku antar dia mengambil surat-surat TKW-nya. Kadang dirumahnya, saat Bu Murni kepasar, ataupun di kamarku karena memang bebas 24 jam tanpa pantauan dari sepupuku sekalipun.Tak lama setelah keberangkatan Pipit aku pindah ke Jakarta.




















