Sambil menikmati halusnya betis dan kakinya yang putih dengan muka dan mulutku, kukayuh biduk kejantananku yang sekarang bagaikan tegak lurus dengan langit. Napas panjang tanda kelegaaan diikuti kendor otot-2 tubuhnya. Bokeb Matanya merem, terbuka bibirnya. Tegap badan prajuritku dengan topi baja yang siap tempur. Kuikuti gerakan tubuhnya agar kepunyaanku tidak copot dari tempatnya. Susunya amat putih dengan pentil merah muda yang menantang sebesar ruas telunjukku. Kutelusuri paha dan betisnya yang langsing nan halus sampai ke ujung kaki. Nampak celana dalamnya yang berwarna putih. Susunya yang mungil putih dan halus tergencet dadaku yang hitam kasar. Kalau sedang bercakap, bibirnya yang mungil enak untuk dipandang. Kucoba membuka tali pengait di belakang, agak rumit, namun segera dibantu dengan gerakan tangannya. Badan segar selasai mandi, dia masuk ke ruang pribadiku mengenakan kaos krem tanpa lengan (setelah jaketnya dilepas) dengan rok setinggi lutut warna hitam.




















