Niken hanya tersenyum sambil meraih batang kemaluanku dan mengocoknya pelan. Bokepindo Sesampainya disana kami langsung menuju restoran yang sudah kami tentukan dan memesan makanan. Niken yang tadi lemas, terlihat kembali bersemangan dan bernafsu mendapati penisku memenuhi vaginanya. Niken hanya menganggukan kepala. Niken tidak bersuara, hanya mulutnya yang terbuka dengan mata terpejam. “Sini dong mas duduk dulu sambil nunggu hujanya reda. Duh, jadi ngerepotin…” Balas ku tak enak hati. Jangan massssss, jangannnn….” Desah Niken menerima perlakuanku. Tidak lama Niken tertidur pulas, mungkin karena kecapekan. Begitu orgasmenya selesai, dekapan Niken pun melemas. Niken merintih semakin jadi, rangsangan dariku sepertinya berpengaruh banyak pada libido Niken yang terlihat dari nafasnya yang semakin berat. Dengan cepat aku remas payudara Niken yang cukup besar dengan posisi memeluk dari belakang, sambil mulutku mengincar leher Niken yang cukup jenjang.“Uhhhh, Masss! Ditambah responnya yang baik untuk setiap pertanyaanku membuatku betah berlama-lama mengobrol dengan Niken.Kedekatanku dengan Niken yang hanya sebatas BBM-an pun semakin baik.




















