Aku berdiri, kedua tanganku menggapai tanganya, luar biasanya keatas kemudian membawanya melangkah mengikutiku, ke arah kamar…
Mbak Juminten sama sekali tidak bereaksi, dirinya kikuk mengikuti langkahku. Jam 9 pagi, wanita itu telah datang semacam biasanya. Indo bokep Kedua pahanya mengejang kaku,kepalanya hingga terbaring dipermukaan meja sambil terus merintih tiada henti. Pada bosen katanya makan masakan luar, lebih boros juga…” Lanjutku. Aku memaksa kedua paha sekel itu terbuka, dirinya tetap berusaha menutupnya rapat. “Maksudnya apa den..”Tanyanya heran. “Apa aja..” Waduh, kata2 itu sangat menggelitik benakku. “..mbak juga nyesel..”
” tapi kalo boleh jujur..maaf yaaa mbak..”
“Apa den..ngomong aja..”Jawabnya penasaran. “Mbak..mbak..hati2 klo ngomong..”Aku menghela nafas menahan gejolak batin. Sedikit lagi bakal hingga. Aku langsung menindih tubuhnya. “Ouhh..huuhuu..huhuu..deen..telah denn…sudaaah..” Rintihnya sambil memegang bahuku keras. Hujan turun dengan lebatnya sesampainya aku kembali di rumah. Terbukti telah wajib kejadianya semacam ini, apa lagi yg aku tunggu ujarku dalam hati.




















