Pipit juga tak kalah ngeledeknya. Akupun akhirnya nekat memandang dia juga, dan tak terasa tanganku meraih tangan Pipit, dingin dan sedikit berkeringat. Indo bokep Pipit menatapku.“Mas.. Ahh.. Hingga akhirnya secara tak disengaja aku kenal seorang pelanggan yang biasa menggunakan jasa angkutan barang pasar yang kebetulan aku yang mengemudikannya. Wajahnya biasa saja, agak mirip Bu Murni, tapi kulitnya putih dan semampai pula. Kamu puas Pit?”
Pipit hanya mengangguk, “Mas Wahyu.., aku seperti di luar angkasa lho Mas.. Kami berpelukan, mulutku berbisik dekat telinga Pipit.“Kamu gila Pit.. Mengerang panjang sambil tangannya menjambak rambutku.. Luar biasa benar kamu Mas..” bisiknya..Sadar kami berada dirumah orang, kami segera mengenakan kembali pakaian kami, merapihkannya dan bersikap menenangkan walaupun keringat kami masih bercucuran. Masak sih kurang lagi..” balas Pipit..Di situ aku mulai berani ngomong yang sedikit nakal, karena sepertinya Pipit tak terlalu kaku dan lugu layaknya gadis-gadis didesa. Kasihan sekali gue..,,,,,,,,,,,,,,,,,, Tuh bawain air yang dikendil ke depan..,” begitu suara Bu Murni.Aku tidak mendengar ada jawaban




















