Kang! Uhh! Bokepindo Jantungku berdetak jauh lebih cepat dari biasanya. Tanpa sadar aku menjepit kepala mang Narko dengan kedua pahaku.Sementara kesepuluh jemariku mencengram erat kain seprey. Hatiku langsungkebat-kebit. Secara perlahan aku mulai mengerti soal keintiman di antara seorang lelaki dan wanita.Sejak kejadian malam itu pula tiada lagi hari dan malam tanpa petting. Sudah untung kakang bisa ngerasai segitu itu!” ujarSiti mengingatkan suaminya itu. Lihat saja putingku sampai berdiri sepejal karet.“Mau di terusin lagi ndak?” Tanya mbak Siti tersenyum geli.Entah ia bermaksud menggodaku atau karena ia benar-benar ingin tahu pendapatku. Di tengah perjalanan aku kerap melirik ke arah celananya. Untungnya ditengah badai kenikmatan itu akal sehatku ternyata masih mampu diandalkan dan mencegahku agar tak kebablasan. Aku masih tetap tergolek menyamping di ranjang mereka di antara ke dua suami-istri itu. Ketika aku membuka mataku kulihat wajah mbak Siti di hadapanku sambil tersenyum kepadaku.“Gimana? Ayo rebahan.” Ujar mbak Siti kepada suaminya.Mang Narko melakukan apa yg mbak Siti barusan katakan padanya.




















