Saya akhirnya sendirian di Ibukota, sepeninggal Simbok. Saya terus memandangi lantai, tidak berani mengangkat kepala, tapi sekali-sekali saya ngintip kesana-kemari melihat keadaan.Juragan rupanya tinggal sendirian di atas tokonya. Bokeb Saya jadi nggak tahu lagi apa saya masih terus melakukannya hanya karena duit. Meninggal waktu melahirkan anak pertama, anaknya juga tidak selamat. Herannya, biarpun atas bawah gede, tengahnya tidak ikut gede, perut dan pinggang saya masih singset. Juragan berdiri di depan saya, mengamati sekujur tubuh saya. Aduh… malu banget rasanya, telanjang di depan orang lain…Tapi saya bisa dapat uang…“Nah, Denok, sekarang buka kainnya, ya?” sekarang Juragan minta saya buka juga kain batik coklat yang saya pakai.Mungkin karena tadi saya malu-malu dan lambat sekali waktu buka kemben, Juragan mendekati saya dan menyingkap kain batik saya. Saya nggigit bibir,takut keluar suara macam-macam dari mulut saya.




















