Makin lama suara sepatu itu seperti mengutukku bukan berbunyi pletak pelok lagi, tapi bodoh, bodoh, bodoh sampai suara itu hilang.Aku hanya mendengus. Toh masih ada hari esok.Aku bergegas naik angkot yang melintas. Bokef Apalagi yang dapat tertinggal? Lihatlah, masak ia begitu berani tadi menyentuh kepala Junior saat memijat perut. Angin menerobos dari jendela. Ah sial. Kring..!“Mbak Wien, telepon.” kataku.Ia berjalan menuju ruang telepon di sebelah. Dingin. Aku masih mematung. Ketika Si Junior melemah ia seperti tahu bagaimana menghidupkannya, memijat tepat di bagian pangkal paha. Kini pindah ke paha sebelah kanan. Kalau kini aku berani pasti karena dadanya terbuka, pasti karena peluhnya yang membasahi leher, pasti karena aku terlalu terbuai lamunan. Wajahku merah padam. Aku kira aku sudah terlambat untuk bisa satu angkot dengannya. Membuka celanaku dan bajuku lalu gantung di kapstok. Mungkin sapu tangan ini saja suatu kealpaan. Tapi tidak apa-apa toh tipuan ini membimbingku ke ‘alam’ lain.Dulu aku paling anti masuk salon.




















