“Ya sudah, kalau Abi sibuk, Ummi naik bis umum saja, mudah-mudahan nggak pingsan di jalan,” jawab isteriku. Bokep montok Ternyata kenyataan tak sesuai dengan apa yang kuimpikan. Aku terlalu sibuk memperhatikan kekurangan-kekurangan isteriku, padahal di balik semua itu begitu banyak kelebihanmu, wahai Maryamku. Berangkat sendiri saja ya?” ucapku. Selama ini aku terlalu sibuk mengurus orang lain, sedang isteriku tak pernah kuurusi. Ia beda dengan yang lain, ia begitu bersahaja. “Ah…wanita gampang sekali untuk menangis,” batinku. Ah, kenapa pula aku lupa bahwa Allah menyuruh para suami agar menggauli isterinya dengan baik. Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus. Sampai-sampai kemana-mana ia pergi harus bersandal jepit kumal. Tubuh itu lantas berbalik ke arahku, pandangan matanya menunjukkan ketidakpercayaan atas kehadiranku di tempat ini. Namun, kemudian terlihat perlahan bibirnya mengembangkan senyum. “Wanita, memang suka yang indah-indah, sampai bentuk sepatu pun lucu-lucu,” aku membathin.Mataku tiba-tiba terantuk pandang pada sebuah sendal jepit yang diapit sepasang sepatu indah.




















