Mesra, seperti sepasang kekasih yg baru dilanda asmara.Beberapa hari kemudian, sesudah kantor tutup, Ningsih yg sudah sembuh dari diarenya, kuminta datang ke rumah. ssshh … arrrgggghhhhhhhhhhhhhhhh …. Bokef ssshh … arrrgggghhhhhhhhhhhhhhhh …. kemaluan di balik celanaqu sudah menegang sejak tadi ketika aqu mulai pertama kali melihat BREAST HOULDER nya. Kapan-kapan saya ajari ya”. Ningsih makin menggigil dan tambah mengerang: “Paaak, Ningsih malu paak … ssshhh aargghhh … ssshh …”. “Narsiiih, kamu memang enaak, Ningsih …” begitu desisku.Sambil aqu juga ikut menggerakkan bokongku naik turun seirama dgn naik turunnya bokong Ningsih, aqu mengocok kelentit Ningsih yg ada di depan dgn tangan kananku. Rupanya dia juga tak sungkan-sungkan untuk menempelkannya. Beberapa minggu kemudian, aqu benar-benar sudah bertugas di puskesmas ini. Rasanya bukan main enak, tak terkirakan. Dia datang masih memakai seragam tugas. Melihat sikapnya yg seperti itu, aqu meramal bahwa Ningsih suatu saat pasti bisa kuajak bergelut bugil di tempat tidur.Badan Ningsih cukupan, tingginya sekitar 160 cm, badannya langsing,




















