Muluntuku pun mulai menghisap gundukan indah Mbak Titis. Bokef Pas nyampe di depanku, Ibu Titis meletakkan sikunya di meja dan meraih majalah yang ada. Waktu itu aku bekerja sebagai kru produksi. Kulirik jam tanganku, masih jam 11. Mbak Rani, penyiar terakhir hari ini, masih bercuap-cuap aja di depan miknya.Aman, pikirku. Kupandangi sejenak tetek Mbak Titis yang sedari tadi belum kusentuh sama sekali. “Mbak, enak banget Mbak”, cerocosku. Kulirik jam tanganku, masih jam 11. Aku tersenyum aja mendengarnya. Setelah Mbak Titis keluar dr ruanganku aku segera membereskan celanaku. Panggil aja Mbak. Segera kubalik tubuh Mbak Titis kupaksa untuk menungging. “terusin mas… terusin”,
Aku semakin gencar mengulum puting tetek Mbak Titis. Akhh… Ibu Titis…
Tiba-tiba di penisku ada benda lain yang menempel. Dan semuanya terasa lembut. Beberapa lama aku terpejam sambil tanganku tetap mengocok penisku pelan. Dudukku menjadi tidak tenang. Ati-ati ya…”, sahuntuku cepat berharap Rani segera pulang.




















