Jantungku berdebar-debar. Bokep hijab Pantas, Kak Tina tak
mengijinkanku membacanya, pikirku. Kejantananku menekan kemaluannya, tergadang kugosok-gosokkan. Aku mengharapkan segalanya akan terulang kembali. Aku tak berani
bertanya kepadanya. Pak Rochim dan ibu
sangat baik kepadaku. Terkadang mengelusnya,
terkadang mengusap sampai ke pangkal pahaku. Paginya aku takut-takut, kalau Kak Tina tahu
ada sisa sperma di dasternya. Setiap siang sepulang sekolah, sambil
mengembalakan tiga ekor sapi milik Pak Rochim, aku membaca Kho Ping
Hoo. Setelah makan, aku beristirahat di
dalam kamar. Kak Tina tidak ada di rumah. Baunyapun beda, seperti bau akasia. Dia hanya memberikan Kho Ping Hoo
untukku. Aku tertarik untuk membacanya lagi nanti. Aku agak risih saat tangannya menyentuh kejantananku. Kusentuh lagi
dadanya yang satu lagi. Kak Tina percaya. Juga Nick Carter. “Berdiri sebentar, Sapto”. Waktu mengambil rumput sapi aku memikirkan semua yang
terjadi, segalanya begitu fantastis. Aku tidak diijinkannya
membaca novel-novel stensilan itu. Tiba-tiba terdengar suara sepeda yang disandarkan ke dinding. Aku
terus membacanya, jakunku yang mulai tumbuh bergerak-gerak menelan
ludah.




















