Kak Edo bangkit, berdiri ke samping ranjang. Bokep china Tunggulah, ya? Apa kata keluarga, apa kata Bapak dan Ibu? Aku duduk di atas meja. Hatiku makin muram…Setelah membereskan kamar, aku mulai membersihkan rumah. Bagaimana bisa berkata cinta? Masih merasa seperti bermimpi, yg kalau diceritakan maka akan jadi cerita cabul esek esek saru. Bagaimana aku dapat memanggilnya sebagai kekasih, walaupun kini aku mencintainya dengan seluruh tubuh dan jiwaku?“Aku cinta padamu,” Kak Edo duduk di tepi ranjangnya. Saya sudah bahagia bisa begini. Lebih besar daripada… penis laknat yg dahulu memperkosaku. saya tdk akan melupakan tuan.” Kening tuanku berkerut.Ia nampak marah. Ambil baju dan handuk, aku terus kembali mandi. Menjilat lagi. Saya hanya pembantu. Pandangan mataku gelap, nanar dalam hantaman orgasme yg hebat. Di tubuhku. Tuaannnn….” aku tak tahan.Terlalu enak. Tapi sekarang, kalau boleh saya ingin melayani Kakak…” Aku mengangkat wajah.Menatap wajah tampan itu, menjadi Arjunaku dalam hidup. Saya sudah berkata lancang…” Tuanku terdiam.Aku merasa tdk karuan.“Permisi, tuan…” dengan gugup aku




















